Selasa, 22 Mei 2012

fakta Gunung Salak

Posted by Muhammad Yahya 22.21, under | No comments

Gunung salak meletus
Diduga letusan besar G. Salak (2211 m) pada tahun 1699 telah merubah ‘perwajahan’ gunung tersebut. Letusan menyebabkan adanya‘belahan tengah’,  seperti yang terlihat dari jauh ada lembah besar yang menganga ke arah utara. Pada saat letusan besar ini batu batuan, pohon pohonan, lumpur lahar mengalir deras melalui Cisadane, dan sebagian sebaran batu batuan yang terlempar membuat daerah lereng dan kaki gunung bagian utara banyak terisi batu batuan seperti yang banyak dijumpai saat ini.

Letusan G. Salak berikutnya terjadi pula pada tahun 1761 dan 1780, namun kedua letusan ini tidak terlalu besar seperti letusan yang terjadi pada tahun 1699 sebelumnya itu.
Pada tahun 1834 terjadi gempa bumi (kemungkinan gempa volcanic juga) namun tidak tercatat adanya letusan gunung lagi. Gempa ini cukup kuat karena dapat  merobohkan sebagian bangunan Governor Palace (Istana Bogor sekarang).Kemudian Governor Palace ini dibangun lagi dengan model yang bertahan dan terlihat sampai saat ini.

Berikut nama pesawat yang pernah jatuh di G.salak
 1. Tanggal 10 Oktober 2002. Pesawat Trike bermesin PKS 098 jatuh di Lido, Bogor. 1 tewas

2. Tanggal 29 Oktober 2003. Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten    Bogor, 7 tewas

3. Tanggal 15 April 2004. Pesawat Paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport, jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Korban 3 orang tewas.

4. Tanggal 20 Juni 2004. Pesawat Cessna 185 Skywagon, jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor. 5 orang tewas.

5. Juni 2008. Pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari  permukaan laut. 18 orang tewas.

6. 30 April 2009. Pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. Korban: 3 tewas

7. 9 April 2012. Pesawat Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia jatuh di Gunung Salak. Jumlah penumpang 46 orang.


G.Salak dan pendaki yang hilang
Meski menjual eksotisme alam yang luar biasa, ternyata banyak cerita di balik gunung yang memiliki tebing-tebing terjal ini. Tebalnya kabut dan banyaknya trek menuju puncak ternyata sering menjadi kendala para pendaki tersesat dan batal menikmati sunset dari atas puncak.

Selain faktor geografis, sejumlah cerita mistis menyelimuti kegagahan gunung yang disebut-sebut menjadi salah satu tempat penyimpanana harta karun peninggalan Belanda. Bahkan cerita-cerita yang sulit dipercaya itu malah diyakini menjadi penyebab beberapa insiden kecelakaan pesawat hingga hilangnya para pendaki.

Pada Februari 2009, tujuh orang pendaki gunung yang juga mahasiswa Universitas Yarsi sempat dinyatakan hilang. Mereka tersesat saat mereka mendaki melalui jalur ilegal di Cimalati, Sukabumi. Ketujuh pendaki ini yaitu, Sofyan 22 tahun, Reza 21 tahun, Hengky 22 Tahun, Rizki 18 tahun, Tika 18 tahun, dan Tryas 18 tahun. Setelah Tim SAR turun ke lapangan dan melakukan pencarian, akhirnya mereka ditemuka di hari ke empat sejak dinyatakan hilang kontak.

Di bulan Januari 2010, rombongan pendaki dari UIN Yogyakarta juga dinyatakan hilang kontak saat melakukan pendakian. Beruntung pendaki yang berjumlah 6 orang itu berhasil ditemukan oleh Tim SAR sehari setelah dinyatakan hilang. Beratnya medan yang dilalui, membuat tim SAR sempat kesulitan mengevakuasi korban. Tim sempat dihadang tebing yang longsor.

Tak hanya hilang, para pendaki juga banyak yang tewas ketika mendaki gunung itu. Di awal tahun 2012 tepatnya di bulan Februari, seorang pendaki dinyatakan tewas dalam pendakian ke Gunung Salak, Bogor. Pria yang tewas itu bernama Fajar Arrahman (19) mahasiswa Universitas Budi Luhur Jakarta. Saat itu dia bersama 14 rekannya yang sedang mengikuti kegiatan pendidikan dasar pencinta alam.

Fajar meninggal dunia di sekitar Kampung Pajagan, Desa Parakansalak, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, sekitar pukul 05.30 WIB. Kabarnya penyebab kematian Fajar karena saat itu akan mendaki sebenarnya dia sedang tidak fit.

Meski kematian dan atau sebuah kejadian itu datangnya tidak bisa diprediksi, namun para pendaki Gunung Salak selalu diberi imbauan oleh para petugas Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) untuk tidak mendaki di awal-awal tahun terlebih di bulan Januari. Sebab, di waktu-waktu itu cuaca di sekitar Gunung Salak sedang musim hujan.

Tak hanya itu, para pendaki juga diimbau melintasi trek yang aman dan legal untuk meminimalisir sesuatu hal. Berikut ini empat jalur pendakian yang biasa dipilih untuk sampai dengan selamat dan menikmati keindahan Taman Nasional Gunung Halimun dari atas puncak.

Jalur NatrabuNatrabu adalah pintu masuk pendakian Gunung Salak lewat desa Pasirreungit sebagai akses utamanya. Jalur ini mungkin adalah yang paling sulit dilihat dari banyaknya genangan lumpur yang dalam, sempitnya jalur, dan jika ingin menuju puncak maka harus melewati kawah ratu terlebih dahulu. Namun hanya sedikit percabangan dalam jalurnya yang mungkin dapat mencegah para pendaki dari bahaya tersasar.

Jalur CidahuJalur ini merupakan yang paling umum, terlebih banyak fasilitas di kawasannya. Sebut saja komplek perkemahan, villa, serta tempat spa. Jalur ini pun dikelola resmi oleh pihak taman nasional dengan bangunan sekretariat. Kondisi jalur ini boleh dibilang telah cukup baik, para pendaki pun dapat langsung menuju puncak tanpa melewati kawasan kawah terlebih dahulu. Namun memasuki pintu hutan tropis yang lebat, cukup banyak percabangan jalan yang terkadang menyulitkan.

Desa Giri Jaya

Jalur ini dahulunya merupakan jalur resmi, namun saat ini sudah tak terpakai lagi karena sudah ada jalur Cidahu yang lebih representatif tentunya. Para pendaki dapat langsung menuju puncak lewat jalur ini.

-Jalur Cimelati

Jalur Cimelati adalah jalur semi-resmi di mana memang banyak terdapat tempat perkemahan di sana namun untuk bukan jalur yang cukup ramai seperti di Cidahu. Di jalur ini, para pendaki harus berjalan cukup jauh melewati area perkebunan sebelum memasuki pintu hutan. Jalur ini dilihat dari peta merupakan jalur terdekat menuju puncak sehingga  dipastikan sudut elevasi jalurnya cukup tinggi.
Sumber: Merdeka.com

Makam Di G.Salak
Makam Raden KH Moh Hasan Bin R KH Bahyudin Praja Kusumah, atau dikenal warga sebagai Mbah Gunung Salak, sering didatangi para peziarah.
Kuburan yang berada tepat di atas Puncak Manik atau Puncak Salak Satu, Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, dianggap warga memiliki kekuatan mistik yang sangat kuat.
"Warga di sekitar sini banyak yang berziarah ke sini, begitu juga dari luar kota," ucap Ading (61), warga Cijeruk, Bogor, Jawa Barat, Minggu (13/5/2012).
Menurutnya, mereka datang dengan berbagai permintaan, agar maksud dan tujuannya bisa menjadi kenyataan.
"Mau apa saja yang dimintanya, datang ke sini," jelasnya.
Ading datang ke Puncak Manik untuk menjadi penunjuk jalan bagi pasukan Brimob. Ia sempat berdoa di atas kubur Mbah Gunung Salak bersama rekannya.
"Tapi, di sini sulit air. Jadi, mungkin orang-orang untuk berziarah jarang wudhu lebih dulu," ujarnya.
Ketika wartawan turun gunung menuju Cimelati, Sukabumi, ada rombongan berjumlah sekitar empat orang, yang membawa air menuju ke Puncak Salak.
"Kami akan berziarah ke atas," kata salah satu dari mereka, saat ditanya wartawan.
Seorang warga menjelaskan, kuburan tersebut dibangun oleh seseorang yang berada di sekitar Gunung Salak. Sehingga, kuburan Mbah Gunung Salak dikeramik dan menjadi bagus. Padahal, awalnya makam itu hanya berupa batu.
"Biasanya, yang berziarah banyaknya pada bulan Mulud (Maulid Nabi). Tapi, hari biasa pun warga banyak yang berziarah ke sini," paparnya. (*)

Sumber : yahoo.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Tags

recent post

Blog Archive

Archives